
Karangrayung – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Grobogan melalui Tim 1 Bidang Perindustrian terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) di berbagai wilayah Kabupaten Grobogan. Salah satunya melalui kegiatan monitoring sentra industri kerajinan berbasis bambu dan kayu.
di Kecamatan Karangrayung, Kamis (17/9/2026). Monitoring kali ini menyasar Sentra Anyaman Bambu Desa Jetis dan Sentra Lampit/Kerai Desa Nampu. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran secara langsung mengenai kondisi usaha para pengrajin, jenis dan kapasitas produk yang dihasilkan, ketersediaan bahan baku, pola pemasaran, tenaga kerja, serta berbagai permasalahan yang dihadapi dalam menjalankan kegiatan produksi.
Kegiatan monitoring juga menjadi bagian dari upaya Disperindag Grobogan dalam melakukan pembinaan dan pendataan terhadap potensi industri daerah, sekaligus mengidentifikasi kebutuhan pengembangan IKM agar dapat menjadi bahan dalam penyusunan kebijakan dan program pembinaan industri yang lebih tepat sasaran.
Potensi Anyaman Bambu Desa Jetis
Di Desa Jetis, Tim 1 Bidang Perindustrian melakukan pemantauan terhadap kegiatan produksi pada sentra anyaman bambu yang saat ini melibatkan sekitar 10 orang pengrajin.
Para pengrajin masih mempertahankan keterampilan mengolah bambu menjadi berbagai produk kerajinan yang memiliki fungsi dalam kehidupan sehari-hari. Produk yang dihasilkan antara lain rinjing, keranjang, widig, dan kipas bambu.
Keberadaan produk tersebut menunjukkan bahwa kerajinan anyaman bambu masih memiliki peluang untuk dikembangkan. Produk kerajinan tidak hanya mengandalkan fungsi, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah melalui desain, ukuran, motif, finishing, maupun pengemasan yang lebih menarik.
Dalam pemasarannya, produk hasil kerajinan Desa Jetis telah menjangkau konsumen melalui beberapa saluran. Produk dipasarkan secara lokal, baik melalui penjualan langsung maupun jaringan tengkulak yang datang mengambil produk. Selain itu, sebagian pengrajin juga mulai memanfaatkan pemasaran secara online dan offline.
Pemanfaatan pemasaran digital menjadi peluang bagi pengrajin untuk tidak hanya bergantung pada pasar lokal. Dengan pengelolaan konten yang baik dan dukungan terhadap kualitas produk serta kemasan, produk anyaman bambu berpotensi diperkenalkan kepada konsumen yang lebih luas.
Tantangan Regenerasi Pengrajin
Di balik potensi tersebut, para pengrajin anyaman bambu Desa Jetis masih menghadapi persoalan yang perlu mendapat perhatian, terutama terkait regenerasi tenaga pengrajin.
Keterampilan menganyam selama ini banyak diwariskan secara turun-temurun. Namun, minat generasi muda untuk meneruskan usaha tersebut masih relatif rendah. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi keberlangsungan sentra kerajinan karena apabila tidak ada regenerasi, jumlah tenaga terampil dapat semakin berkurang.
Selain regenerasi, persoalan lain yang dihadapi adalah ketersediaan bahan baku bambu lokal. Kebutuhan bahan baku yang tersedia di wilayah setempat belum mencukupi kebutuhan produksi sehingga pengrajin harus mendatangkan bambu dari luar daerah.
Kondisi tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pengembangan sentra, mengingat ketersediaan dan kesinambungan bahan baku sangat berkaitan dengan kelancaran proses produksi serta biaya yang harus dikeluarkan oleh pengrajin.
## Sentra Lampit/Kerai di Desa Jetis
Selain sentra anyaman bambu, di Desa Jetis juga terdapat kegiatan produksi lampit/kerai yang melibatkan sekitar 20 orang pengrajin.
Keberadaan pengrajin lampit/kerai semakin memperlihatkan bahwa masyarakat Desa Jetis memiliki potensi keterampilan dalam mengolah bahan alam menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Potensi tersebut perlu terus dikembangkan melalui peningkatan kualitas produk, inovasi desain, serta penguatan akses pemasaran. Dengan adanya inovasi, produk kerajinan tradisional diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan selera konsumen tanpa menghilangkan karakter khas produk lokal.
Monitoring kemudian dilanjutkan ke Desa Nampu, Kecamatan Karangrayung, yang menjadi salah satu sentra kerajinan kerai dengan jumlah pengrajin yang cukup besar.
Berdasarkan hasil pemantauan, terdapat sekitar 180 orang pengrajin yang terlibat dalam kegiatan produksi kerai di Desa Nampu. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa usaha kerajinan kerai telah menjadi salah satu aktivitas ekonomi masyarakat yang cukup penting di wilayah tersebut.
Produk yang dihasilkan meliputi kerai bambu dan kerai kayu. Selain memproduksi kerai dengan model umum, para pengrajin juga telah mampu melayani permintaan konsumen berupa kerai lukis custom.
Kemampuan menerima pesanan custom menjadi salah satu bentuk inovasi yang menarik. Konsumen dapat memesan produk dengan desain tertentu sehingga produk yang dihasilkan memiliki karakter yang lebih personal dan nilai tambah yang lebih tinggi.
Dari sisi pemasaran, produk kerai Desa Nampu telah memiliki jaringan pasar melalui tengkulak. Di sisi lain, para pengrajin juga mulai memanfaatkan perkembangan teknologi digital dengan melakukan pemasaran melalui platform TikTok dan Shopee.
Pemanfaatan media sosial dan marketplace tersebut menjadi salah satu perkembangan positif dalam pemasaran IKM. Kanal digital memberikan kesempatan bagi pengrajin untuk memperkenalkan produk secara langsung kepada calon konsumen, memperluas jangkauan pasar, serta membangun identitas produk kerajinan lokal.
Meskipun memiliki jumlah pengrajin yang cukup besar dan jaringan pemasaran yang telah berkembang, sentra kerai Desa Nampu juga menghadapi kendala pada aspek bahan baku.
Bahan baku yang dibutuhkan untuk kegiatan produksi masih harus didatangkan dari luar daerah karena ketersediaan bahan baku lokal belum mampu memenuhi kebutuhan pengrajin.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian dalam pengembangan sentra industri karena semakin besar aktivitas produksi, semakin besar pula kebutuhan bahan baku yang harus tersedia secara berkelanjutan.
Pemetaan sumber bahan baku, penguatan jaringan pemasok, serta upaya pengembangan bahan baku lokal dapat menjadi bagian dari langkah yang perlu dipertimbangkan untuk mendukung keberlangsungan sentra.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Grobogan, Pradana Setyawan, S.Pt., M.P., menyampaikan bahwa kegiatan monitoring ke sentra-sentra industri merupakan bagian penting dalam memahami kondisi IKM secara langsung.
Menurutnya, pembinaan IKM tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan administratif, tetapi juga perlu melihat secara langsung kondisi pelaku usaha di lapangan, termasuk potensi, kebutuhan, dan kendala yang mereka hadapi.
> “Monitoring seperti ini penting untuk melihat secara langsung bagaimana kondisi IKM kita di lapangan, mulai dari proses produksi, pemasaran, ketersediaan bahan baku, sampai dengan persoalan regenerasi pengrajin. Dari hasil monitoring ini kita dapat mengetahui kebutuhan pembinaan yang lebih sesuai dengan kondisi masing-masing sentra,” ujar Pradana.
Ia juga menyoroti pentingnya regenerasi pada sektor kerajinan tradisional. Menurutnya, keterampilan yang dimiliki para pengrajin merupakan potensi yang perlu dijaga agar tidak berhenti pada satu generasi.
> “Kerajinan anyaman bambu dan kerai merupakan bagian dari potensi industri masyarakat yang perlu kita jaga keberlanjutannya. Salah satu tantangannya adalah bagaimana membuat generasi muda melihat bahwa kerajinan ini bukan hanya pekerjaan tradisional, tetapi juga bisa dikembangkan menjadi usaha yang memiliki nilai ekonomi melalui inovasi produk dan pemasaran digital,” jelasnya.
Lebih lanjut, Pradana mendorong para pelaku IKM untuk terus melakukan inovasi agar produk yang dihasilkan mampu mengikuti perkembangan kebutuhan dan selera pasar.
> “Yang kita dorong bukan hanya peningkatan jumlah produksi, tetapi juga bagaimana produk memiliki nilai tambah. Desain, kualitas, kemasan, branding, dan pemasaran digital menjadi bagian yang perlu diperhatikan agar produk IKM Grobogan dapat memiliki jangkauan pasar yang lebih luas,” tambahnya.
Terkait kendala bahan baku yang masih harus didatangkan dari luar daerah, pihaknya menyebut persoalan tersebut perlu dipetakan secara lebih lanjut agar dapat diketahui kebutuhan dan rantai pasok yang diperlukan oleh masing-masing sentra.
> “Persoalan bahan baku juga perlu menjadi perhatian. Kita perlu melihat kebutuhan masing-masing sentra dan bagaimana memastikan pasokannya tetap tersedia. Dengan bahan baku yang lebih terjamin, proses produksi pengrajin juga dapat berjalan secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Hasil monitoring di Kecamatan Karangrayung menunjukkan adanya potensi industri kerajinan yang cukup beragam. Mulai dari anyaman bambu di Desa Jetis, lampit/kerai di Desa Jetis, hingga sentra kerai di Desa Nampu yang melibatkan sekitar 180 pengrajin.
Keberadaan sentra tersebut tidak hanya memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan keterampilan dan pengetahuan produksi kerajinan yang telah berkembang di masyarakat.
Ke depan, pengembangan sentra industri perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan memperhatikan beberapa aspek, antara lain peningkatan kapasitas SDM, regenerasi pengrajin, inovasi desain dan produk, peningkatan kualitas, ketersediaan bahan baku, penguatan kelembagaan, pengemasan, serta perluasan akses pasar termasuk melalui platform digital.
Melalui monitoring secara berkala, Disperindag Kabupaten Grobogan terus berupaya memperoleh data dan informasi aktual mengenai kondisi IKM sebagai dasar dalam menentukan arah pembinaan dan pengembangan industri.
Dengan sinergi antara pemerintah, pengrajin, pelaku usaha, serta berbagai pihak terkait, potensi kerajinan bambu dan kerai di Kecamatan Karangrayung diharapkan dapat terus berkembang, memberikan nilai tambah bagi masyarakat, sekaligus menjadi bagian dari kekuatan industri lokal Kabupaten Grobogan.
