Print

WhatsApp_Image_2026-09-30_at_09.22.19.jpeg

Grobogan – Penguatan sektor industri di Kabupaten Grobogan tidak hanya dilakukan melalui perencanaan di atas meja, tetapi juga melalui pemantauan langsung terhadap kondisi industri di lapangan. Berbagai potensi, aktivitas produksi, penyerapan tenaga kerja hingga kendala yang dihadapi pelaku usaha terus dipetakan sebagai bagian dari upaya mendorong industri daerah agar semakin berkembang dan berdaya saing.

 

Hal tersebut dilakukan Tim 1 dan Tim 2 Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Grobogan pada Selasa (29/9/2026), dengan melaksanakan monitoring di Sentra Garam Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, serta PT Japfa Comfeed Poultry and Breeding Ngaringan.

Dua lokasi tersebut memiliki karakteristik industri yang berbeda. Sentra Garam Jono merupakan potensi industri berbasis masyarakat dan sumber daya lokal, sementara PT Japfa Comfeed Poultry and Breeding merupakan industri yang bergerak dalam rantai pembibitan ayam pedaging. Keduanya menjadi bagian dari ekosistem industri yang turut menggerakkan perekonomian Kabupaten Grobogan.

Sentra Garam Jono, Potensi Lokal dengan Jangkauan Pasar Lebih Luas

Di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, tim monitoring melihat secara langsung aktivitas masyarakat yang hingga saat ini masih mempertahankan usaha produksi garam.

Berdasarkan hasil monitoring, saat ini terdapat 38 petani garam yang aktif menjalankan kegiatan produksi. Produk yang dihasilkan tidak hanya berupa garam, tetapi juga bleng, yang menjadi salah satu produk dari sentra garam setempat.

Menariknya, pemasaran produk garam Jono tidak hanya berputar di wilayah Kabupaten Grobogan. Produk tersebut telah dipasarkan hingga Semarang dan Jakarta.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sentra garam Jono memiliki potensi untuk terus dikembangkan. Selain mempertahankan aktivitas ekonomi masyarakat, perluasan pasar juga menjadi indikator bahwa produk lokal memiliki peluang untuk menjangkau konsumen di luar daerah.

Dari sisi kelembagaan, para petani juga telah membentuk Paguyuban Petani Garam Tirta Manunggal, yang diketuai oleh Warsito.

Keberadaan paguyuban tersebut menjadi salah satu modal penting dalam pengembangan sentra. Melalui kelembagaan yang lebih kuat, koordinasi antarpetani, penyampaian informasi, pembinaan, peningkatan kapasitas serta pengembangan pemasaran dapat dilakukan secara lebih terarah.

Namun demikian, hasil monitoring juga menemukan sejumlah hal yang masih menjadi perhatian dalam pengembangan produk garam Jono.

Salah satunya adalah produk garam yang masih diproduksi secara alami dan belum melalui proses yodisasi.

Kondisi tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu mendapatkan perhatian dalam upaya peningkatan kualitas dan nilai tambah produk. Pengembangan ke depan dapat diarahkan pada peningkatan proses produksi, mutu, pengolahan, pengemasan serta pemenuhan persyaratan produk sesuai kebutuhan pasar.

Dengan demikian, potensi garam Jono tidak hanya berhenti sebagai komoditas produksi masyarakat, tetapi dapat terus didorong menjadi produk lokal yang memiliki nilai ekonomi dan daya saing lebih tinggi.

PT Japfa Comfeed Poultry and Breeding Ngaringan Serap 78 Tenaga Kerja

Sementara itu, monitoring juga dilaksanakan di PT Japfa Comfeed Poultry and Breeding Ngaringan.

Perusahaan ini bergerak dalam bidang pembibitan ayam pedaging/potong, khususnya menghasilkan telur indukan ayam pedaging.

Telur yang dihasilkan selanjutnya dikirim ke hatchery untuk ditetaskan menjadi DOC (Day Old Chick) atau anak ayam umur sehari. Rantai produksi tersebut menunjukkan peran industri breeding dalam mendukung keberlanjutan sektor perunggasan, mulai dari penyediaan telur indukan hingga menghasilkan bibit ayam untuk tahap produksi berikutnya.

PT Japfa Comfeed Poultry and Breeding Ngaringan sendiri telah beroperasi sekitar 10 tahun.

Selama menjalankan aktivitasnya, perusahaan tersebut juga memberikan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja. Saat ini tercatat sebanyak 78 orang tenaga kerja terlibat dalam kegiatan operasional perusahaan.

Keberadaan industri seperti ini menjadi bagian penting dalam struktur perekonomian daerah karena tidak hanya menciptakan aktivitas produksi, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan dan menggerakkan kegiatan ekonomi di sekitar wilayah operasional.

Namun, hasil monitoring di lapangan juga menemukan adanya kendala yang perlu menjadi perhatian, yakni keterbatasan sumber air di lokasi kandang.

Ketersediaan air merupakan salah satu faktor penting dalam operasional industri peternakan, baik untuk kebutuhan pemeliharaan, sanitasi, kebersihan maupun menunjang aktivitas produksi. Karena itu, persoalan tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam monitoring untuk selanjutnya dapat menjadi bahan koordinasi dan pembinaan sesuai kewenangan masing-masing pihak.

Monitoring Jadi Basis Pembinaan Industri

Kegiatan monitoring yang dilakukan Bidang Perindustrian Disperindag Grobogan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk mendapatkan data dan gambaran riil mengenai kondisi industri di lapangan.

Tidak hanya mencatat jumlah pelaku usaha maupun tenaga kerja, monitoring juga diarahkan untuk melihat bagaimana proses produksi berjalan, ke mana produk dipasarkan, bagaimana kelembagaan pelaku usaha, serta persoalan apa saja yang masih dihadapi.

Kepala Disperindag Kabupaten Grobogan melalui Bidang Perindustrian terus mendorong agar kegiatan monitoring semacam ini menjadi bagian dari penguatan pembinaan industri secara berkelanjutan.

“Potensi industri di Grobogan sangat beragam. Ada industri yang tumbuh dari kekuatan masyarakat dan sumber daya lokal seperti garam Jono, ada pula industri dengan rantai produksi yang lebih besar seperti breeding ayam. Keduanya memiliki peran masing-masing dan perlu mendapatkan perhatian sesuai karakter serta kebutuhannya,” demikian semangat yang dibawa dalam kegiatan monitoring tersebut.

Bagi Disperindag Grobogan, data lapangan menjadi bagian penting dalam menentukan arah pembinaan. Potensi harus dipetakan, kendala harus diidentifikasi, dan peluang pengembangan harus terus dibuka.

Dari 38 petani garam di Jono hingga 78 tenaga kerja di industri breeding Ngaringan, terdapat potensi ekonomi yang perlu terus dijaga dan dikembangkan.

Monitoring pun bukan sekadar kegiatan turun ke lapangan, tetapi menjadi bagian dari proses untuk memastikan bahwa industri daerah terus bergerak, masyarakat tetap produktif, tenaga kerja terserap, dan potensi lokal Grobogan semakin memiliki nilai tambah.

WhatsApp_Image_2026-09-30_at_07.58.28.jpeg